Sabtu, 25 Agustus 2012

Awan Putih


Awan putih 
tempatku mencurahkan
segala arah
berjalan perlahan
dengan tenang menunggu
perlahan mengarungi waktu
menghilang di balik layar
menatap melihat saat
menembus indahnya pagi
menuju bintang malam menampakkan dirinya

Pengerat

saatnya sawahku kini kujaga ketat
karena sering sekali aku lihat bajingan-bajingan yang tak beradab
merenggut padiku yang mulai masak
hasil keringatku
menjadikannya awut-awutan
bajingan tengik!
pengerat berbagai rupa
berbagai cara
kupergoki kau mengambil milikku-milik kami
langsung terbirit mencari lubang untuk sembunyi
membuat lorong ke luar negeri
mencari celah
kesempatan melarikan diri
dasar pengerat!
kuracun kau baru tahu diri

Cangung

pak
kau sudah tak terlihat canggung dengan cangkul itu
mahir sudah kau
mencungkil rumput liar dari beceknya tanah sawah
tempatmu berbagi dengan tuan mu
padimu
hasil kerja kerasmu sepadu padan dengan aliran sungai keringatmu
tak seberapa tapi puas rasanya
kadang kau harus bergulat dengan hama
pengerat menjengkelkan pengambil harta orang
yang tak canggung
meskipun malu harus ditanggung

Rabu, 22 Agustus 2012

cukong-cukong senayan

aku tak habis pikir pada mereka
yang duduk dengan indahnya di singasana milik rakyatnya
menjualbelikan perkara dan trayek luar biasa
mata-matanya hanyut dalam kubangan hijau
suara-suaranya adalah bahasa-bahasi semata
mengeruk rakyat dengan membabi buta
ah...
sayang sekali
kepercayaanku luntur ditelan cetak biru ku
untuk mengurus apapun milikku
membuatku mengerti
milikku ya miliku
milikmu akan jadi milikku

sesalku

di kolong jembatan ini
aku hidup merana
meratapi hidup yang fana dengan apa adanya
aku menyesal telah pergi ke ibukota
kerja keras menggali asa
tak kulirik, dulu yang ada di desaku
tanah, sawah, dan kebun milik orangtuaku
pasti jadi nasi jika aku mau
di ibukota ini
aku menjerit
mencoba mencari malam dalam siang

yang terlupakan

riuh tepuk tangan itu masih melekat dalam benakku
meniti tangga kemenangan
menelan seluruh sorakan kebanggaan akan diriku
lagu kebangsaan berkumandang dalam sesaknya haru biru
merah-putih berkibar dalam rasa bangga atas keringat anaknya
saat aku mulai layu
termakan waktu terjegal tulang yang membiru
untuk menikmati sesuap nasi dengan keluargaku
ternyata riuh tepuk tangan itu
adalah awal penderitaanku
dalam menyongsong peraduanku
di batas waktu

Sabtu, 18 Agustus 2012

Kenangan Kerinduan

kenangan ini menunggu kawan
menyerang membabi buta
membentuk lingkaran matahari kelabu dalam sejarahku
kawanku memandang indah kehidupan hari itu
menjunjung tinggi harga diri
menggantinya dengan harga tinggi
kesenangan dunia tak lebih berharga
dari kebebasan hakiki untuk dimiliki
dan mengusir mahluk berkulit putih berpostur tinggi
aku menunggu hari itu
hari yang membuat darahku bergejolak
dengan teriakan merdeka di sekelilingku
teriakan yang begitu keras dan bersemangat
maju bersandingkan bambu
menuntut hakikat diri
dari tangan si rakus


---sang benteng timur---