riuh tepuk tangan itu masih melekat dalam benakku
meniti tangga kemenangan
menelan seluruh sorakan kebanggaan akan diriku
lagu kebangsaan berkumandang dalam sesaknya haru biru
merah-putih berkibar dalam rasa bangga atas keringat anaknya
saat aku mulai layu
termakan waktu terjegal tulang yang membiru
untuk menikmati sesuap nasi dengan keluargaku
ternyata riuh tepuk tangan itu
adalah awal penderitaanku
dalam menyongsong peraduanku
di batas waktu



0 komentar:
Posting Komentar